Kritik ini semakin relevan ketika publik mencatat bahwa Darwin dan Rhika Purwaningsih bukan figur yang tumbuh dari proses kaderisasi panjang di tubuh Golkar. Mereka bukan kader yang merangkak dari bawah, bukan pula sosok yang melalui perjalanan panjang membesarkan partai di tingkat akar rumput. Kehadiran mereka di pucuk struktur terjadi dalam waktu relatif singkat. Fakta ini bertentangan dengan tradisi Golkar yang selama puluhan tahun dikenal sebagai partai dengan jenjang kaderisasi bertahap dan ketat.
Lebih dari itu, konfigurasi kepemimpinan suami–istri ini berpotensi menciptakan preseden paling gelap dalam sejarah Golkar. Jika praktik seperti ini dianggap lumrah, maka Golkar sedang membuka pintu bagi dinasti struktural internal, sesuatu yang selama ini justru kerap dikritik Golkar ketika terjadi dalam pemerintahan daerah. Ironisnya, Golkar bisa terjebak dan kalah oleh logika kekuasaan yang selama ini ia tentang di ruang publik.
Dalam konteks ini, sikap Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar menjadi sangat menentukan. Diamnya DPP tidak bisa dibaca sebagai sikap netral. Dalam politik, diam adalah pilihan. Dan pilihan untuk diam berarti membiarkan persoalan etik ini berlarut-larut tanpa kejelasan. Jika pembiaran terus terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya soliditas Golkar Sultra, melainkan juga marwah Golkar sebagai partai nasional.
Golkar dibesarkan oleh sistem, bukan oleh silsilah keluarga. Partai ini menjadi besar karena kaderisasi, bukan karena relasi pernikahan. Jika hari ini konfigurasi di mana suami memimpin Golkar di tingkat provinsi dan istri menguasai struktur kabupaten dianggap sebagai hal yang wajar, maka Golkar sedang mengirim pesan berbahaya kepada publik: bahwa kekuasaan dapat diwariskan secara struktural tanpa mekanisme koreksi etis.
Dan ketika sebuah partai politik kehilangan rasa malu, kepercayaan publik hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh. Jika situasi ini terus dipertahankan, Golkar Sulawesi Tenggara bukan sedang menyiapkan masa depan. Golkar Sultra sedang menggali kuburnya sendiri.













Komentar