Bulog Naik Kelas: Wajah Baru Otonom dan Digital Menuju Kedaulatan Pangan

Berita63 Dilihat

Romadhon Jasn menilai pembangunan gudang sebagai investasi kepercayaan bagi petani. “Ini bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kehadiran negara di sentra produksi,” katanya.

Di sisi hilir, fungsi sosial Bulog tetap menjadi prioritas. Penyaluran bantuan beras kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat dengan alokasi 720 ribu ton menunjukkan komitmen menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Program ini menjadi penyangga utama di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.

Integritas lembaga diperkuat melalui digitalisasi sistem stok yang transparan. Publik kini dapat memantau ketersediaan pangan secara real-time, sehingga ruang spekulasi semakin menyempit. “Pentingnya akurasi data, kejujuran data adalah fondasi kepercayaan. Tanpa data yang akurat, kebijakan tidak akan tepat sasaran,” tegas Romadhon.

Di lapangan, sinergi dengan Babinsa TNI AD memperkuat pengawalan panen dan distribusi. Pendampingan ini membantu mencegah praktik permainan harga oleh tengkulak serta memastikan petani kecil memperoleh akses langsung ke sistem serapan Bulog.

Sebagai penutup, wajah baru Bulog 2026 mencerminkan harapan baru bagi kedaulatan pangan nasional. Transformasi ini menunjukkan keberanian meninggalkan pola lama menuju tata kelola yang profesional dan adaptif. Romadhon Jasn mengatakan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Bulog tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan kementerian dan daerah adalah kunci. Kritik harus dipandang sebagai vitamin agar Bulog semakin kuat dan Indonesia semakin berdaulat pangan,” pungkasnya.

Baca juga:  Jangan Main di Dapur MBG! Presiden Prabowo Sudah Ingatkan: Dua Lauk Itu Wajib!

Komentar