Tangis Gubernur Pecah di Rumah Duka Bocah Korban Tabrak Lari di Kendari

KENDARI, NJSANTARAVOICE.COM — Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di Kelurahan Pondambea, Kecamatan Kadia, Kota Kendari. Di rumah itulah, seorang bocah perempuan berusia delapan tahun, berinisial N, menghembuskan kenangan terakhirnya—meninggalkan duka yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Jumat (6/2/2026) malam, Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, datang menyambangi keluarga korban. Langkahnya pelan, wajahnya tertunduk. Saat berhadapan langsung dengan orang tua N, emosi itu tak lagi bisa dibendung. Air mata Gubernur berlinang. Tangisnya pecah. Ia larut dalam kesedihan yang menyesakkan, merasakan pilu yang sama seperti yang dirasakan keluarga korban.

N meninggal dunia setelah menjadi korban tabrak lari. Tubuh kecilnya tertabrak kendaraan alat berat jenis loader di Perempatan PLN Wuawua, Kecamatan Wuawua, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 18.23 Wita. Di usia yang seharusnya diisi dengan tawa, permainan, dan mimpi-mimpi sederhana, hidup N justru terhenti di aspal jalan.

Di hadapan keluarga yang berduka, Andi Sumangerukka menyampaikan belasungkawa dengan suara bergetar. Ia menegaskan bahwa pelaku tabrak lari telah diamankan pihak kepolisian dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, baik secara hukum maupun secara moral kepada keluarga korban.

“Hari ini saya datang ke rumah almarhumah. Berdasarkan informasi yang saya terima, pelaku sudah ditangkap,” ucapnya lirih.

Baca juga:  Sekda Sultra Diwakili Staf Ahli Gubernur, Resmi Buka Sosialisasi Monev Keterbukaan Informasi Publik

Gubernur Sultra bersama Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, juga meninjau langsung kondisi rumah keluarga korban. Rumah itu dihuni tujuh orang anak, dalam keterbatasan ekonomi yang memprihatinkan. Ayah korban bekerja serabutan, sementara sang ibu tidak memiliki pekerjaan tetap. Dalam kondisi seperti itu, anak-anak kerap turun ke jalan membantu orang tua—sebuah pilihan pahit yang sarat risiko.

“Anak-anak seharusnya dilindungi, bukan dihadapkan pada bahaya jalanan,” ujar Andi Sumangerukka dengan mata berkaca-kaca.

“Saya mengimbau agar anak-anak tidak lagi dibiarkan berjualan di pinggir jalan. Risikonya terlalu besar.”

Komentar