Sultra dalam Angka: Perbandingan Awal Periode II NA (2013) dan Satu Tahun ASR (2025)

Opini13 Dilihat

Berbeda dengan 2013, tahun 2025 adalah benar-benar tahun pertama pemerintahan Andi Sumanggeruka. Dalam literatur kebijakan publik, fase ini biasanya ditandai oleh proses konsolidasi, penataan ulang birokrasi, dan penyesuaian fiskal. Namun data BPS menunjukkan sinyal yang relatif kuat.

Pada triwulan IV-2025, ekonomi Sultra tumbuh 5,79 persen (c-to-c) dan 5,94 persen (y-on-y). Angka ini memang lebih rendah dibanding 2013, tetapi yang membedakan adalah arah dampaknya. Persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat 10,14 persen, turun signifikan dibanding periode sebelumnya, dengan jumlah penduduk miskin berkurang hampir 10 ribu orang.

Lebih penting lagi, Gini Ratio turun menjadi 0,357, jauh lebih rendah dibanding 0,43 pada 2013. Dalam perspektif inclusive growth, penurunan ketimpangan pada tahun pertama pemerintahan adalah sinyal kuat bahwa orientasi kebijakan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga pemerataan hasil pembangunan.

Dari sisi ketenagakerjaan, Sultra 2013 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,46 persen dengan angkatan kerja sekitar 1,01 juta orang. Pada 2025, jumlah angkatan kerja meningkat signifikan menjadi 1,46 juta orang, dengan TPT menurun ke 3,33 persen.

Meski terjadi fluktuasi Tingkat Partsipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan pasar kerja masih relatif stagnan, tingkat pengangguran yang lebih rendah menunjukkan daya serap ekonomi yang lebih baik. Dalam kerangka structural transformation, kondisi ini lazim terjadi pada fase awal perubahan arah pembangunan.

Baca juga:  Banjir Tahunan Semarang: Salah Hujan atau Salah Kebijakan?

Kalau kita bicara angka pertumbuhan dan investasi fisik, Nur Alam 2013 jelas unggul. Angka PDRB riil tinggi, PMTB melonjak, triwulan IV-2013 tumbuh di atas 8 persen ini semua angka yang mengkilap. Tapi konteksnya harus diingat: tahun ke-6 kepemimpinan. Dengan enam tahun pengalaman, pertumbuhan ini sebenarnya sudah harus lebih stabil dan berkelanjutan. Ketimpangan tinggi dan kemiskinan yang tetap signifikan menunjukkan kegagalan mengubah pertumbuhan menjadi kesejahteraan yang nyata.

Sementara itu, ASR pada tahun pertama baru mulai menancapkan arah kebijakan. Angkanya memang moderat, tapi indikator kesejahteraan bergerak cepat: kemiskinan turun, Gini Ratio menurun, TPT rendah. Dalam literatur pembangunan kontemporer, capaian berkelanjutan di tahun pertama pemerintahan lebih impresif secara strategis dibanding pertumbuhan tinggi di tahun ke-6 pemerintahan lama.

Dengan kata lain, jika impresif diukur hanya dari angka pertumbuhan, Nur Alam lebih menonjol. Tapi jika impresif diukur dari kemampuan menghadirkan pertumbuhan yang berdampak nyata bagi masyarakat, menurunkan kemiskinan, dan memperbaiki distribusi pendapatan, ASR justru lebih menonjol. Dalam teori Stiglitz dan Acemoglu Robinson, growth that benefits only a few is less berharga dibanding growth that lifts many.

Dalam konteks Sultra, tahun ke-6 Nur Alam menunjukkan pertumbuhan tinggi tapi ketimpangan tetap besar. Sementara tahun pertama ASR menunjukkan pertumbuhan moderat, tetapi mulai menurunkan kemiskinan dan ketimpangan menandakan arah kebijakan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca juga:  Terbongkar! Ini Sosok di Balik Grup GAY Koltim yang Bikin Heboh Warga Sultra

Jadi, kalau bicara impresif secara substantif, satu tahun pertama ASR terlihat lebih menjanjikan dibandingkan satu tahun periode ke II Nur Alam. Angka-angka tidak berbohong maksudnya arah kebijakan lebih penting daripada sekadar kecepatan pertumbuhan.

Komentar