Namun, perannya selama gelombang Arab Spring mengundang kontroversi luas, terutama setelah pernyataan kerasnya terhadap para demonstran. Pasca kejatuhan rezim, Saif ditangkap dan ditahan di Zintan selama beberapa tahun sebelum dibebaskan pada 2017 melalui amnesti.
Pada 2021, Saif al-Islam kembali mencuat ke panggung politik dengan mendaftarkan diri sebagai calon presiden Libya. Pemilu tersebut hingga kini belum terlaksana akibat krisis politik dan keamanan yang belum terselesaikan.
Tim Saif al-Islam menyerukan penyelidikan independen atas insiden penyerangan tersebut. Sampai saat ini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab.
Libya masih menghadapi instabilitas serius akibat pertarungan kekuasaan antara faksi-faksi politik yang bersaing serta pengaruh kuat kelompok bersenjata di berbagai wilayah.







Komentar