Bloomberg melaporkan bahwa regulator keuangan tertinggi China telah meminta bank-bank besar melaporkan eksposur mereka terhadap Venezuela, menandakan meningkatnya kekhawatiran di Beijing.
Victor Shih, profesor di University of California, San Diego, mengatakan China berisiko menanggung kerugian besar jika pemerintahan baru Venezuela di bawah tekanan AS memprioritaskan kreditur Amerika dibandingkan China.
Selama bertahun-tahun, China menjadi pembeli utama minyak Venezuela melalui skema pinjaman dibayar minyak. Namun, minyak Venezuela hanya menyumbang sekitar 4% dari total impor minyak China, membuat nilai utang lebih penting bagi Beijing dibanding pasokan energi itu sendiri.
Shih menilai China masih memiliki alat tekanan terhadap AS, termasuk pembatasan ekspor logam tanah jarang, untuk memaksa Washington berunding demi melindungi kepentingan krediturnya.
Dampak ekonomi bagi China akan sangat bergantung pada siapa yang akhirnya menguasai Venezuela. Trump mengatakan AS akan “menjalankan” negara tersebut, meski para analis menilai Washington kemungkinan akan mendukung pemerintahan boneka alih-alih pendudukan langsung.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan Washington dapat menahan ekspor minyak Venezuela sebagai alat tekan terhadap pemerintahan baru di Caracas.
Menurut pakar hubungan internasional Shen Dingli dari Shanghai, jika pemerintahan baru Venezuela menolak menghormati perjanjian era Maduro, China hampir pasti akan menempuh jalur hukum internasional meski gugatan itu akan diarahkan ke Venezuela, bukan Amerika Serikat.
Krisis Venezuela kini bukan hanya soal pergantian kekuasaan di Caracas, tetapi juga medan baru dalam persaingan geopolitik antara dua kekuatan terbesar dunia.













Komentar