Selama masa aktivasi Posko Terpadu Siaga Darurat Nataru, BPBD Sultra akan melakukan rekapitulasi dan pelaporan kondisi wilayah setiap 1 x 24 jam, termasuk menghimpun laporan dari instansi terkait seperti Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, dan stakeholder teknis lainnya.
Ia juga mendorong BPBD kabupaten/kota agar tidak hanya melaporkan kejadian bencana, tetapi juga aktivitas edukasi kebencanaan serta kondisi cuaca yang berpotensi menimbulkan risiko.
Selain penguatan koordinasi, BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara merencanakan peninjauan lapangan ke sejumlah wilayah rawan bencana, terutama daerah daratan. Kota Kendari menjadi salah satu titik prioritas pemantauan kesiapan posko dan wilayah rawan.
Dalam kesempatan tersebut, La Ode Saifuddin menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Penanggulangan bencana, menurutnya, memerlukan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari TNI/Polri, relawan, hingga stakeholder yang tergabung dalam Posko Terpadu di daerah.
BPBD Sultra juga meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota segera mengaktifkan posko siaga bencana di wilayah masing-masing, melakukan pemetaan daerah rawan, serta menyampaikan informasi potensi bahaya kepada masyarakat melalui penandaan lokasi-lokasi berisiko.
“Masyarakat harus tahu ancaman di sekitarnya agar dapat meningkatkan kewaspadaan selama Natal dan Tahun Baru,” katanya.
Menutup rakor, La Ode Saifuddin mengajak seluruh pihak untuk terus memperbarui informasi cuaca, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat sinergi demi menciptakan situasi yang aman dan kondusif selama perayaan Nataru di Sulawesi Tenggara.











Komentar