Namun, waktu pengajuan usulan ini dinilai sensitif. Sistem asuransi kesehatan Korea Selatan tengah menghadapi tekanan finansial serius, dengan proyeksi defisit yang bisa mencapai 4,1 triliun won pada 2026. Kalangan tenaga medis pun merespons dengan skeptis.
Asosiasi Medis Korea menilai perluasan cakupan untuk perawatan rambut rontok bukan prioritas. Mereka menegaskan bahwa dana asuransi seharusnya difokuskan pada penyakit serius seperti kanker dan kondisi yang mengancam nyawa.
Nada kritis juga datang dari media konservatif. Harian Chosun Ilbo menyebut kebijakan tersebut tidak seharusnya diputuskan tanpa terlebih dahulu menghimpun pandangan masyarakat sebagai pembayar iuran asuransi.
Menteri Kesehatan Jeong Eun Kyeong turut menyampaikan kehati-hatian. Ia menafsirkan pernyataan presiden soal “kelangsungan hidup” lebih berkaitan dengan kesehatan mental dan rasa percaya diri generasi muda, khususnya saat mencari pekerjaan. Menurutnya, dampak kebijakan ini terhadap keuangan negara perlu dikaji secara menyeluruh.
Di sisi lain, sejumlah politisi dari partai berkuasa menyambut positif wacana tersebut. Park Joo-min, anggota parlemen yang secara terbuka pernah menjalani transplantasi rambut, menyebut usulan ini sebagai gambaran unik realitas sosial Korea Selatan saat ini.
Terpisah, Presiden Lee juga menginstruksikan Komisi Perdagangan Adil untuk menyelidiki harga pembalut wanita, yang diklaim jauh lebih mahal dibandingkan negara lain akibat dugaan praktik monopoli. Kebijakan-kebijakan ini memperlihatkan fokus pemerintah pada isu kesejahteraan sehari-hari, meski menuai perdebatan tajam di tengah publik.











Komentar