Namun, Wanda menegaskan bahwa sikap presiden yang berani minta maaf justru menjadi cermin bagi pejabat daerah yang selama ini “menghilang”, lambat merespons, atau terlalu bergantung pada pusat. “Jika presiden saja berani meminta maaf, maka bupati dan wali kota yang gagal bertindak cepat seharusnya punya keberanian yang sama untuk mengakui kelemahan,” katanya.
Menurutnya, rakyat Aceh sudah terlalu sering menjadi korban kepemimpinan simbolik—pemimpin yang hadir hanya di kamera, bukan di lumpur bencana. Karena itu, tindakan Prabowo dianggap meneguhkan standar baru bagi pejabat publik. “Yang kita lihat hari ini adalah presiden yang memimpin dari garis depan. Ini tamparan moral bagi pejabat yang hanya memimpin dari grup WhatsApp,” sindir Wanda.
Meski demikian, Wanda menyatakan masyarakat Aceh menghargai ketulusan Prabowo yang datang tanpa jarak. “Rakyat Aceh pernah kehilangan segalanya pada 2004. Mereka tahu membedakan mana pemimpin yang hadir secara emosional dan mana yang sekadar hadir fisik,” katanya.
Pada bagian akhir, Wanda menyerukan agar semua elemen daerah memperkuat kerja lapangan, bukan saling menyalahkan. “Presiden sudah memberikan contoh. Kini tugas kita memastikan pemulihan berjalan cepet,” pungkasnya.
