Najib menjelaskan bahwa kerja sama PBNU–CSCV dibuktikan melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada 20 Mei 2022. Dalam MoU tersebut, CSCV ditunjuk sebagai Sekretariat Permanen G20 Religion Forum (R20), dengan mandat operasional yang mencakup perencanaan, penyusunan konsep, hingga penyelenggaraan kegiatan internasional.
“CSCV bertanggung jawab mengoordinasikan kerja-kerja strategis forum itu, termasuk diplomasi global, produksi konten, dan hubungan antarperadaban,” jelasnya.
Najib juga membantah tudingan bahwa CSCV merupakan lembaga abal-abal. Menurutnya, rekam jejak CSCV selama empat tahun terakhir justru menunjukkan produktivitas yang tinggi dan kontribusi besar dalam agenda-agenda internasional PBNU.
Sejak Juli 2021 hingga November 2025, CSCV disebut telah menghasilkan lebih dari 64 output konkret yang terdokumentasi, mulai dari enam konferensi internasional, lima publikasi buku dan prosiding, tiga film dokumenter, situs web internasional, delapan kelompok kerja lintas negara, hingga liputan media internasional seperti The Wall Street Journal dan The Economist.
CSCV juga menjalin kemitraan dengan universitas ternama seperti Princeton University, Sciences Po, dan Boston University, serta lembaga dan tokoh dunia seperti Centrist Democrat International (CDI), Muslim World League, dan pemimpin gereja internasional.
Dengan berkembangnya isu dugaan TPPU yang menyeret nama PBNU, Gus Yahya menegaskan pihaknya tidak akan menghalangi proses penyelidikan apa pun. Namun ia berharap publik tetap berpegang pada data dan fakta, bukan spekulasi.
“Kita tunggu saja prosesnya. Tapi jangan bangun narasi yang tidak faktual,” tutupnya.
















Komentar