Pertamina Jadi Guru Energi: Membangun Kesadaran Bangsa Menuju Masa Depan Rendah Karbon

Energi156 Dilihat
banner 468x60

Pertamina juga aktif memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui program tanggung jawab sosial (TJSL). Dukungan bagi UMKM, perempuan, disabilitas, dan komunitas rentan menjadi bagian dari strategi keberlanjutan. Di sini, energi tidak lagi sekadar urusan korporasi, tapi instrumen pemberdayaan manusia.

“Pertamina berhasil membumikan gagasan keberlanjutan menjadi gerakan sosial. Energi tidak lagi berhenti di pompa dan pipa, tapi mengalir hingga ke ruang berpikir masyarakat. Literasi energi menjadi bahan bakar baru bagi akal sehat bangsa,” tutur Romadhon Jasn.

Upaya edukasi ini juga melibatkan kolaborasi dengan media, universitas, dan komunitas lokal. Pertamina menyadari bahwa menghadapi disinformasi dan hoaks soal energi, pengetahuan adalah pertahanan pertama. Karena itu, literasi energi diarahkan untuk membangun kesadaran publik terhadap tanggung jawab kolektif menjaga keberlanjutan.

“Pertamina sedang mengajarkan cara berpikir baru bahwa energi tidak bisa lagi dipisahkan dari etika dan keberlanjutan. Ini bukan soal citra korporasi, tapi soal cara bangsa ini memandang masa depannya,” tegas Romadhon Jasn.

Pada akhirnya, literasi energi bukanlah proyek komunikasi, melainkan bentuk peradaban. Pertamina membuktikan bahwa perusahaan bisa menjadi guru, bukan hanya penyedia. Ketika masyarakat memahami bahwa energi, lingkungan, dan ekonomi saling terhubung, maka keberlanjutan tidak lagi sekadar konsep melainkan kesadaran bersama. Dan di sanalah, kedaulatan energi sejati dimulai.

banner 336x280
Baca juga:  Dirut Patra Niaga dan Dirjen Migas Tinjau SPBU di Jawa Timur, Pastikan Pelayanan dan Kualitas BBM Sesuai Standar

Komentar