JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM— Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menandai babak baru dalam kebijakan energi nasional. Di tengah ketegangan geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia, Indonesia mampu menjaga kestabilan pasokan energi. Pertamina menjadi garda depan dalam memperkuat ketahanan nasional, mulai dari peningkatan produksi hingga transisi ke energi hijau.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, produksi minyak nasional mencapai 620 ribu barel per hari (BOPD), naik dibandingkan 605 ribu BOPD pada 2024. Produksi gas juga meningkat 3,2 persen berkat optimalisasi blok Rokan, Mahakam, dan Andaman. Di saat banyak negara menghadapi krisis energi, Indonesia justru berhasil menekan impor BBM hingga 8 persen dan menjaga harga di tingkat konsumen tetap stabil.
Langkah strategis pemerintah menunjuk Pertamina sebagai importir tunggal BBM menjadi tonggak baru dalam manajemen energi nasional. Kebijakan ini memungkinkan kontrol penuh terhadap distribusi dan mengurangi potensi permainan harga di tingkat swasta. Melalui digitalisasi subsidi, bantuan energi kini lebih tepat sasaran dan akuntabel. Pemerintah mengklaim efisiensi subsidi energi tahun ini mencapai Rp46 triliun.
Pertamina juga mempercepat proyek kilang RDMP Balikpapan dan pembangunan kilang Tuban, yang kini memasuki tahap awal operasional. Selain itu, uji coba bioetanol E10 dan biodiesel B40 terus diperluas di beberapa wilayah. Kebijakan ini sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Prabowo–Gibran yang menempatkan energi sebagai tulang punggung kedaulatan ekonomi.
Menurut Direktur Eksekutif Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, capaian energi selama setahun terakhir menunjukkan arah kemandirian yang semakin jelas. “Namun kemandirian sejati tidak berhenti di angka produksi. Ini tentang kemampuan menjaga kendali strategis dan memastikan manfaat energi dirasakan sampai ke rakyat kecil,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/10/2025).







Komentar