PARIS, NUSANTARAVOICE.COM – Prancis berada di ambang krisis politik dan ekonomi setelah kebuntuan penyusunan anggaran negara memicu pertarungan keras di parlemen. Perdana Menteri François Bayrou telah meminta pemungutan suara kepercayaan pada 8 September mendatang, namun peluangnya untuk bertahan dinilai tipis setelah Partai Sosialis (PS) secara resmi bergabung dengan kubu oposisi, termasuk Partai Hijau dan kelompok sayap kanan National Rally.
Kehilangan dukungan Sosialis praktis membuat pemerintahan minoritas Bayrou tidak memiliki mayoritas untuk meloloskan kebijakan. Menteri Keuangan Eric Lombard bahkan memperingatkan secara terbuka bahwa intervensi Dana Moneter Internasional (IMF) bisa menjadi opsi terakhir jika kebuntuan berlanjut.
Di atas kertas, kondisi fiskal Prancis memang belum seburuk Italia atau Yunani. Utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah Italia yang mencapai 135%, sementara biaya bunga obligasi 10 tahun Prancis berada di 3,5%, lebih rendah dari Inggris yang menanggung 4,7%. Namun tren pertumbuhan utang dinilai mengkhawatirkan. Proyeksi menunjukkan rasio utang Prancis akan meningkat dari 113% pada 2024 menjadi lebih dari 120% pada akhir dekade ini.
“Bagi investor internasional, bukan hanya besaran utang yang penting, tetapi arah pergerakannya. Dan saat ini arah utang Prancis sedang menanjak,” kata seorang analis pasar Eropa.
Komentar